Daerah  

Pemerintah Harus Eksis Merawat Budaya Melayu yang Kian Tergerus Zaman.

Wakil Bupati Sayahdian Purba Siboro didamping Lurah Kotapinang Irwan Sentosa saat laksankan penutupan Festival Budaya Melayu Kotapinang.

 

KOTAPINANG, goresnews.com semarak malam penutupan Festival Budaya Melayu Bahraien di halaman Istana Kotapinang berlangsung khidmat dan penuh makna, menandai berakhirnya perhelatan budaya yang untuk pertama kalinya digelar di lokasi halaman istana peninggalan yang bersejarah, Sabtu malam (02/05/2026) Jalan Istana, Kelurahan Kotapinang, Kecamatan Korapinang.

Wakil Bupati Syahdian Purba Siboro didampingi Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Zulad secara resmi menutup rangkaian kegiatan yang telah menyedot perhatian masyarakat dari berbagai kalangan.

Wakil Bupati dimimbar menyampaikan penutupan festival ini bukan sekadar seremoni, melainkan menjadi simbol kuat penegasan identitas dan warisan budaya Melayu yang kian tergerus perkembangan zaman. Di tengah gemerlap pertunjukan seni dan adat, tersirat pesan mendalam bahwa budaya lokal membutuhkan perhatian serius dari semua pihak, terutama pemerintah daerah.

Festival perdana yang digelar di depan Istana Bahraein Kotapinang, bukti nyata peninggalan kerajaan Melayu yang pernah tersohor hingga ke negeri tetangga.

Ini menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali kejayaan budaya yang mulai memudar. Keberadaan istana yang sarat nilai sejarah seharusnya menjadi pusat pelestarian, bukan sekadar saksi bisu yang perlahan dilupakan, katanya.

Tempat yang berbeda, Zuhheri Rambe Kabid Budaya dan sejarah Ikatan Wartawan Online (IWO) Labusel menegaskan pentingnya komitmen berkelanjutan untuk menjaga dan merawat budaya Melayu. Ia menekankan bahwa kegiatan seperti festival ini tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial semata, tetapi harus menjadi gerakan nyata yang didukung kebijakan dan anggaran yang berpihak pada pelestarian budaya.

Lebih jauh, festival ini diharapkan mampu mempererat tali persaudaraan masyarakat serta menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas Melayu. Di tengah arus modernisasi yang tak terbendung, budaya lokal justru harus tampil sebagai fondasi yang menguatkan karakter generasi muda.

Ironisnya, di balik kemegahan acara, kondisi fisik Istana Kotapinang justru memprihatinkan. Banyak bagian bangunan dan aset bersejarah yang rusak tanpa perawatan memadai, bahkan banyak aset-aset terkikis oleh keserakahan oknum-oknum yang tak bertanggung jawab.

Hal ini menjadi cerminan lemahnya perhatian terhadap warisan leluhur yang seharusnya dijaga dengan penuh tanggung jawab.Penutupan Festival Budaya Melayu Bahraien akhirnya menjadi pengingat keras bahwa pelestarian budaya bukan sekadar wacana.

Mohon perhatian Pemerintah untuk benar-benar eksis dan hadir dalam merawat warisan yang hampir punah ini, sebelum identitas budaya Melayu hanya tinggal cerita tanpa jejak nyata di tanahnya sendiri.

Irwan Sentosa Siregar Lurah Kotapinang, saya sebagai pemerintahan yang terentah tetap dukung apapun kegiatan yang positif, seperti ini kegiatan sakrar sejarah kesultanan yang ada di daerah kita dari budaya melayu inilah kita belajar agar tetap terjaga sebagai warisan kelak kepada anak cucu kita.

Reporter] Fatir.