Efek Pembangunan Gorong-Gorong, Berdampak Kepada Warga Sekitar.

Kotapinang, goresnews.com hujan semalaman mengguyur Kecamatan Kotapinang khususnya Desa Sisumut Dusun Sidodadi Blok 40, hujan tersebut membuat dua kepala rumah tangga tidak bisa tidur, bahkan di haruskan bekerja menyelamatkan perabot-perabot rumah tangga mereka. Volume air di dalam rumah semakin bertambah dengan meluapnya air dari paret besar mencapai rata-rata setinggi pinggang orang dewasa, kejadian sekira jam 02.15 WIB Selasa 14 Januari 2025.

Rumah Paidi pasca banjir, dengan perabotan yang masih bergeletakan di depan rumah(foto-cand)

 

Yanti (38) korban warga Dusun Sidodadi Blok 40 Desa Sisumut tepatnya depan doorsmer merasa terjolimi dan mengatakan kepada tim media, tak pernah-pernahnya banjir sebegini dahsyat tingginya yang memasuki rumah kami, ini kejadian kedua kami alami dalam sepekan ini.

Memang, alur air samping rumah membela melintasi tanah pak Sugiono namun aliran air tersebut sudah ada dan berpuluh-puluh tahun silam lamanya, belum lagi saya lahir paret serta aliranya sudah memang begitu pak, tegas yanti.

Kejadian bisa begini saat pak Sugiono membeko dan menanam serta membangun gorong-gorong, sehingga air yang mengalir dari tiga penjuru tak tertampung meluber masuki rumah kami, taksiran kerugian yang saya alami sekira lebih kurang puluhan juta pak, dengan perincian dari beberapa alat-alat elektronik prabot rumah tangga yang tidak terpakai lagi serta kultur bahan-bahan meterial rumah yang rusak terendam air.

Begitu juga dengan Paidi (42) rumahnya ikut terendam dan lebih parah dari rumah adiknya, sangking geram anak paidi mengajak menunjukkan pembagunan gorong-gorong untuk memampung tiga alur air besar dari hulu paret ketika air hujan datang yang dibangun mantan kepala desa tersebut.

Anak Paidi tunjukkan gorong-gorong di samping rumahnya (foto-can)

“Gorong-gorong berdiameter satu meter dengan panjang lebih kurang sepuluh meter manalah mampu menampung air yang datang, sementara paret yang ada lebarnya sebelum dipasang gorong-gorong lebih kurang dua meter setengah, itupun kami masih kebanjiran ketika hujan datang” jelasnya.

Ketika dihubungi melalui seluller mantan Kades Sugiono menepis kesalahnya serta menjelaskan seharusnya warga tersebut tanggap, air besar datangnya dari mana dan aku pasang gorong-gorong sudah yang paling besar diameter satu meter dan lokasi yang ada itu memang selalu banjir saat hujan.

“Mereka nuntut kemana ya silahkan, yang jelas aku masang gorong-gorong tersebut di tanah pribadiku”

Yang lebih parahnya lagi pak, mereka mencebir aku dengan kata-kata yang tak enak di dengar seperti kades anji,,, dan lain-lain di sosmed pula lagi, inilah yang membuat aku kesal bercampur emosi, kata mantàn kades tersebut.

Saat dimintai keterangan dari Pj Kades Sisumut Ibu Aprilyanti Br Pohan dikantor Desa Sisumut melalui seluller dihadapan Sekdesnya Rabu tanggal (15/01/2025) menjelaskan kami pihak Desa sudah melakukan mediasi sebanyak dua kali kepada warga sebagai korban dan pak Sugiono, namun dimediasi tersebut belum mendapat putusan sebagai mana yang diharapakan dari kedua belah pihak.

Saya sebagai Pj Kepala Desa sudah memohon kepada pak Sugiono agar gorong-gorong yang ditanam di angkat dengan artian dibuka kembali sebagai mana mestinya, agar masyarakat tak terdampak saat musim hujan.

Namun saat itu pak Sugiono mengatakan “mana ada duitku, nantilah kalau sudah datang alat berat ku, aku bongkar”, ulangi bicara Sugiono melalui ucapan Pj Kades Sisumut via seluller

Intinya tidak ada titik temu dari dua kali mediasi tersebut, mediasi pertama pak Sugiono ngak hadir dan mediasi kedua belum ada titik temu, dan perlu diketahui pak Sugiono tersebut menjelaskan pada saya dalam minggu-minggu ini sudah klirlah itu, kata Pj Kades sambil menutup pembicaraan.

Reporter] Regar