Keterangan gambar: Eksotik narasi kaos yang dikenakan kepala daerah Bupati Labusel Fery Sahputra, mencambuk dengan lembut bawahan yang tak open dengan situasi lapangan.
LABUSEL, goresnews.com
Bupati Labuhanbatu Selatan, Fery Sahputra Simatupang, mengirim pesan keras kepada seluruh SKPD “kebersihan kantor bukan basa-basi, tapi cermin mental dan kinerja aparatur”. Pesan itu tak hanya lewat kata, melainkan simbol kaos yang dikenakannya bertuliskan “Racun tidak selalu berbentuk cairan insectisida, kadang ia berbicara dengan sopan”, sebuah sindiran tajam dengan makna mendalam.

Keterangan gambar: sambil olahraga jumat bupati kunjungi pelayanan dan peralatan dinas serta kebersihan kantor masing-masing SKPD.
Untuk pertama kalinya sejak menjabat, Bupati Fery turun langsung berjalan kaki menyusuri kompleks perkantoran Pemkab Labuhanbatu Selatan, Jumat (23/11/2026), memantau satu per satu kondisi lingkungan kantor SKPD.
Tak ada jarak, tak ada laporan manis di meja yang dinilai adalah fakta di lapangan.
Peninjauan ini beriringan dengan program rutin senam sehat di Lapangan MHB yang setiap pekan melibatkan SKPD, camat hingga perangkat desa.
Program ini tak hanya soal kesehatan, tapi juga menghidupkan UMKM dan ruang publik. Namun ironi justru tampak jelas, lingkungan yang seharusnya jadi etalase pemerintah, masih menyimpan wajah kumuh.
“Saya sengaja berjalan kaki agar bisa melihat langsung kebersihan, kerapian, dan kondisi lingkungan kerja SKPD. Kebersihan adalah pintu masuk peningkatan pelayanan publik,” tegas Bupati Fery.
Ia menegaskan, pelayanan publik yang berkualitas mustahil lahir dari lingkungan kerja yang kotor, semrawut, dan tak terawat. Kebersihan bukan sekadar urusan petugas kebersihan, melainkan tanggung jawab pimpinan tertinggi di setiap kantor.
Sorotan tajam juga datang dari Ormas KBPPP Sektor Kotapinang Yudistira. Ia mengapresiasi langkah Bupati, namun menilai masih banyak “pekerjaan rumah” yang terkesan diabaikan.
Lapangan MHB misalnya, dipenuhi lapak-lapak pedagang tak tertata dengan pemandangan terpal plastik seperti layang-layang bak putus dari benangnya, ditambah aroma tak sedap dari air jualan yang tak tau mau kemana dialirkan, hingga membuat warga yang berolahraga jalannpagi dan sore memilih hengkang ke lokasi lain.
Lapangan yang dulunya hijau walau tak tertata dari rumput yang ditanam dengan anggaran milyart melalui APBD, kini perlahan-lahan mati tercekik hingga berubah warna menjadi kuning ke hitam-hitaman (mati).
Lebih parah lagi, kondisi sejumlah kantor SKPD dinilai menyedihkan,
rumput liar dibiarkan, taman tanpa estetika, bunga di pot “hidup segan mati tak mau”, kamar mandi mampet, dan lingkungan yang jauh dari kata nyaman.
“Seolah-olah kepala dinas yang pegang anggaran masih tertidur di kantornya masing-masing,” sindir Yudis.
Yudis, berharap Bupati Fery tidak berhenti pada simbol dan inspeksi, melainkan berani menindak tegas SKPD yang abai dan membangkang. Sewaktu di sapa “pak bagi kaosnya” Bupati tersenyum.
Karena sejatinya, kebersihan kantor adalah bentuk penghormatan kepada masyarakat yang dilayani.
Sejalan dengan motto sang Bupati, “Kita bangun, kita rawat, dan kita jaga kampung kita Labusel”, publik kini menunggu apakah sindiran keras ini akan diikuti dengan sanksi nyata.
Satu hal pasti, pesan sudah disampaikan. Tinggal SKPD memilih berbenah atau bersiap ditegur lebih keras.
Reporter] Eri-CS












