Daerah  

Paripurna Harla Labusel ke-17 Berlangsung Khidmat, Pejuang Pemekaran Akhirnya Terima Apresiasi Setelah 16 Tahun

LABUSEL, goresnews.com rapat Paripurna Hari Jadi ke-17 Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel) berlangsung khidmat dan tertib di Ruang Rapat Utama DPRD. Acara tersebut menjadi momentum bersejarah, pertama kalinya para pejuang pemekaran menerima cenderamata sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan mereka selama ini. Acara dimulai Senin (21/07/2025) sekira pukul 11.15 WIB Jalinsum Kotapinang – Gunung Tua tepatnya Desa Hadundung, Kecamatan Kotapinang.

Plt Sekwan DPRD Labusel, Ismail Sawito, membuka rapat dengan menyampaikan kilas balik sejarah terbentuknya Kabupaten Labusel. Ia menegaskan bahwa perjuangan pemekaran tidak semudah membalikkan telapak tangan, melainkan melalui proses panjang yang sarat tantangan.

Pantauan media kegiatan disayangkan, meski makna sejarah begitu dalam pelaksanaan acara sempat molor sekitar lebih kurang 75 menit dari jadwal undangan yang tercatat pukul 10.00 WIB. Hal ini menjadi sorotan sejumlah undangan dan tamu undangan.

Kekecewaan tersebut sedikit terobati dengan momen pemberian cenderamata kepada 13 pejuang pemekaran Labusel. Sekretaris Pejuang Pemekaran, M. Yunus, mengungkapkan rasa haru dan terima kasih atas penghargaan yang telah lama dinanti.

“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Bupati Fery Sahputra yang sudah mewujudkan hal ini. Beliau bahkan datang langsung ke meja saya membicarakan hal ini. Setelah enam belas tahun berdiri, akhirnya para pejuang pemekaran mendapatkan pengakuan,” ujar Yunus, yang juga dikenal sebagai pendiri Komtas Ngopi.

Turut hadir dalam paripurna ini, Bupati Fery Sahputra, Wakil Bupati Syahdian Purba, perwakilan dari Kabupaten tetangga seperti Labuhanbatu, Labuhanbatu Utara, dan Padang Lawas Utara (Paluta), Forkopimda, serta sejumlah tokoh dan organisasi masyarakat.

Acara paripurna Harla Ke-17 Labusel diakhiri dengan foto bersama dengan Bupati dan wakil Bupati serta DPRD dan dimeriahkan Pemotongan nasi tumpang oleh Bupati dan wakil Bupati dan diberikan kepada pejuang pemekaran dan pejabat-pejabat yang hadir.

Sementara itu, di Lapangan SBBK, kemeriahan Harla Labusel ke-17 berlangsung selama tiga hari. Masyarakat dihibur oleh artis ibu kota dan seniman lokal yang tampil memukau di atas panggung yang dihiasi dengan ornamen serta pernak pernik meriah oleh panitia.

Lebih kurang sebanyak 87 stan ikut meramaikan acara, mulai dari stan OPD, stan pengiat UMKM, stan KONI, stan KNPI, stan KTNA, hingga stan pelaku usaha properti.

Namun, di balik euforia perayaan, masih ada keluhan dari warga. Seorang pengunjung bernama Sutrisno (45) mengkritik kondisi fasilitas toilet yang kurang layak.

Air berserakan ke Jalan utama lapangan yang dikeluarkan dari WC (foto-cand)

“Toilet di pintu kiri gedung SBBK bau pesing dan airnya menggenang. Saya rasa pembangunan WC kurang tepat. Padahal sudah banyak WC yang ada tapi kurang dirawat. Sistem sirkulasi pembuangan airnya juga perlu dibenahi,” ujarnya sambil menunjukkan bangunan yang dimaksud.

Perayaan Harla ke-17 Labusel ini menjadi cerminan perjalanan dan tantangan pembangunan ke depan. Apresiasi terhadap para pejuang adalah langkah maju, namun perhatian terhadap fasilitas publik juga harus menjadi prioritas pemerintah daerah.

Reporter] Erii-CS

Editor – redaksi1