Labusel, goresnews.com belum lagi lepas dari penatnya panggung pemilihan umum, masyarakat Indonesia dibebani lagi dengan kenaikan harga kebutuhan pangan yang perlu juga diperitungkan oleh Pemerintah Indonesia yang saat ini dipimpin oleh Presiden Jokowi.
Apalagi kenaikan harga-harga sembako yang ngak karu-karuan tersebut dibarengi dengan masuknya bulan suci ramadhon 1445 Hijrah bagi umat Muslim sedunia khususnya Indonesia tercinta.
Bak kata orang Saruja yang masih terdata dalam peta Indonesia masuk dikawasan Labuhanbatu Selatan “poning dikepala awak bolum lagi sombuh, sudah diboratkan dengan harga sembako yang melejit” oeii…dah apa lagi sawit harganya turun,,,, olenglah sampan awak dibuat kenaikan harga-harga dipasar, untung saja masuk bulan ramadhon agak kurang sepiring jatah makan sebulan kedepan.
Gimana ngak pening pak, kata ibu rumah tangga bernama Malinda (50) warga Kotapinang yang mempunyai dua orang anak. Pendapatan dari jualan nasi tak seberapa, harga sembako melonjak gimanalah kami membagi pendapatan saat kondisi ekonomi masyarakat sulit begini Senin (11/03/2024)
Bayangkan beras kasih sayang berat sepuluh kilo harga lama Rp. 136.000,. naik menjadi Rp. 154.000,. Minyak curah sekilo harga lama Rp. 12.000,. menjadi Rp. 15.000,. Gula pasir harga lama Rp. 12.000,. menjadi Rp. 17.000,.
Belum lagi cabe merah harga lama sekilo Rp. 35.000,. harga sekarang Rp. 80.000,. Cabe rawit sekilo harga lama R.20.000,. harga sekarang Rp. 45.000,. Bawang merah harga lama Rp. 28.000,. sekarang Rp. 35.000,. Tomat sekilo harga lama Rp.10.000,. Harga sekarang Rp. 15.000,.
“Pada siapa kami mengadu pak, kalaupun ada tempat mengadu kami yakin tak bakalan digubris oleh Pemerintah yang sibuk dengan urusan Pemilu tempo hari” kata ibu dua anak tersebut.
Disamping itu ibu Fitri (46) harga ikan laut juga ikut-ikut naik, harga ayam potong juga ikutan melejit susah pulak mendapatkanya.
Saya tak habis fikir melihat tataan Pemerintahan kita sekarang, sepertinya tidak berpihak dan mengayomi ke masyarakatnya.
Masyarakat seperti domba yang dilepas dilapangan luas yang tandus, tak ada arahan dan bimbingan dari si pengangon.
Ibu Sagala (51) menjelaskan pada wartawan saya jadi pedagang sejak masih gadis dan sekarang sudah mempunyai cucu, namun roda perekonomian tahun inilah yang hancur-hancuran.
“Ngak, ngerti kenapa dijaman sekarang, kok semakin lama berjualan semakin tak stabil tataan pendapatan prekonomian” katanya.
Kepala Disperindagkop Kabupaten Labuhanbatu Selatan Junjung Harahap saat dimintai keterangan melalui washaapnya, mengenai penyebab sirkulasi kenaikan harga sembako di Pasar inpres Kotapinang tidak menjawab washaap padahal audah seklis dua sampai berita ditayangkan.
Reporter ] Habib-CS












