Imbas Kenaikan BBM Harga Sembako Dan Bahan-Bahan Lainya Perlahan Semakin Meruncing.

Labusel, Goresnews.com ibarat kata pepatah belum sembuh luka lama sudah tumbuh luka yang baru, pepatah tersebut diduga dapat dianalogikan dengan situasi keadaan zaman kita sekarang.

Seperti apa yang disampaikan Putra (38) warga Rantauprapat sopir oplet PT. Povri jurusan Rantauprapat – Bagan Batu saat mengisi Bahar Bakar Minyak (BBM) di Jalinsum titi kembar Kampung Badage, Kelurahan Kotapinang jenis Pertalit Senin (05/09/2022).

Begitu diumumkan kenaikan BBM oleh Pemerintah dengan sendirinya pelangan kami berkurang drastis, kalaupun ada penumpang  tarif ongkos tetap dengan artian belum naik.

Yang parahnya lagi kata Putra, begitu kita masuk SPBU antri ngak ketolongan “bayangkan aja bang empat puluh menit nunggu antrian tiga minibus didepan saya saat ngisi BBM”. Padahal saya perhatikan mereka ngisi pertalite ngak begitu besar nominalnya, hanya dua ratus ribu aja, tapi bisa antri sebegitu lama.

Begitu juga dengan Arif (23) warga Kotapinang menjelaskan pantasan lambat nozel pompa tujuh mati dan nozel sebelahnya yang dibuat ngisi kendaraan dijalur pengisiannya, dengan artian pihak konsumen harus turun berjalan kesebelah melihat nominal jumlah yang harus diisinya.

Petugas mengatakan saat ditanyak Media kenapa nozel tak berfungai, petugas menjelaskan rusaknya nozel ini sudah lama sekira 30 hari yang lalu dan barang sudah dipesan mungkin dua bulan kedepan baru datang.

Ruly NST Mandor SPBU titi kembar menyangkal yang menjadikan antri tersebut saat pengisian BBM dari petugas pompa, namun yang membuat sedikit lambat adalah pencatatan nomor polisi saat ngisi BBM bagi kendaraan roda empat keatas.

Kami, petugas SPBU dituntut dari Pertamina agar mencatat seluruh BK konsumen saat melakukan pengisian BBM, katanya.

Banyak sih konsument yang komplain kepetugas, apa lagi sebagian anggota membantu konsumen melakukan pendaftaran aplikasi MyPertamina, agar dibulan Oktober konsumen saat mengisi BBM subsidi hanya menujukkan bargot saja, saat ini OK lah masih bisa, imbuh mandor.

“Kami hanya ikut aturan bukan melawan aturan, kami pekerja bang harap maklum”katanya.

Di tempat yang berbeda ibu-ibu rumah tangga juga merasakan imbas dari kenaikan BBM, dengan artian harga sembago belum turun saat kenaikan TBS tempo hari yang dibuat Pemerintah. Begitu harga TBS turun, sembako dan bahan-bahan lainya tidak turun mengikuti harga TBS yang turun.

Nisa (43) ibu rumah tangga warga Kotapinang menjelaskan contoh kecil aja bang, harga cabai tidak turun- turun semenjak harga TBS melambung.

Dan sekarang BBM naik harga cabai sudah mencapai sembilan puluh ribu sekilo, bisa jadi saat diberlakunya sestim MyPertamina ngisi BBM harga semakin melambung.

Saya, sebagai ibu rumah tangga terus terang menolak kenaikan BBM, nantinya kita hanya bisa melihat dimana memuncaknya amarah masyarakat, saat pemasukan tidak lagi stabil dengan pengeluaran contoh kecil dalam kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Disitulah kita bisa lihat tidak lagi ada wibawa dan power Pemerintah  dimata masyarakat nantinya.

Pinta saya mewakili kaum ibu-ibu kepada Pemerintah dikepemimpinan Pak Jokowi Dodo Presiden RI sekarang, tolonglah jangan paksa kami merelakan suami-suami kami turun jalan, tuk menyuarakan isi hati dan pikiran kami.

Jangan biarkan kami jadi janda pak, kata ibu Nisa tiga anak dari pasanganya Surianto (Wahyu CS)