LABUSEL, goresnews.com pawai obor yang digelar Pemkab Labusel dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1446 H justru berakhir dengan antiklimaks. Kegiatan yang seharusnya berlangsung meriah ini hanya diikuti oleh tiga kelompok peserta, yaitu Dewan Masjid Indonesia (DMI), Azroh, serta santri Pesantren Dar Al Ma’arif Basilambaru dan anak-anak sekitar.
Pawai yang seharusnya dimulai pukul 20.00 WIB di Aula MHB, Kelurahan Kotapinang, Kecamatan Kotapinang, juga mengalami keterlambatan sekitar 60 menit. Meski demikian, para peserta tetap semangat menempuh rute yang telah ditentukan, melewati pusat kota hingga kembali ke lapangan MHB.
Ketua panitia pawai, H. Abdul Manan Ritonga, yang juga Asisten I Pemkab Labusel, mengungkapkan bahwa pawai ini tetap dilaksanakan meskipun anggaran yang tersedia sangat minim.
Ketua DMI Ir. Raikul Rahman menyebutkan pihaknya harus menggunakan dana pribadi untuk menyediakan 240 batang obor lengkap dengan minyak dan sumbu.
“Kita usahakan yang terbaik meskipun dana terbatas. Bahkan, teman-teman lainnya berinisiatif membantu dengan menyediakan snack agar suasana lebih semarak,” ujarnya.
Peserta yang hadir saat pawai obor sambut ramadhan 1446 H di depan MHB (foto-can)
Minimnya peserta dan penerangan di lokasi acara juga menjadi sorotan anggota DPRD Labusel, Zulkifli. Ia mengaku kecewa dengan kurangnya perhatian Pemkab terhadap kegiatan keagamaan seperti ini.
“Saya sangat kecewa melihat jumlah peserta yang begitu sedikit, penerangan kurang, bahkan sound system pun tidak maksimal. Seharusnya Pemkab lebih serius dalam menyelenggarakan acara yang sakral seperti ini, apalagi ini hanya setahun sekali,” tegasnya.
Sebagai solusi, Zulkifli menyarankan agar ke depan Pemkab melibatkan lebih banyak pihak, seperti organisasi Islam, kelompok kepemudaan, dan ibu-ibu pengajian, agar pawai obor Ramadhan bisa lebih meriah dan berkesan.
Kegiatan yang seharusnya menjadi ajang syiar Islam dan kebersamaan ini justru menuai kritik. Akankah Pemkab Labusel melakukan perbaikan di tahun mendatang? Masyarakat tentu menantikan gebrakan baru agar tradisi pawai obor tidak kehilangan esensinya.
Reporter] regar












