Menjemput Asa dari Lembar Literasi, Dosen UINSU Dorong Nalar Kritis Lewat “Reset Indonesia”

Dosen UINSU Reviza Putra Syarif, S.Sos., M.I.Kom. Serahkan buku pada  dekan Prof. Dr. Mesiono, S.Ag., M.Pd Dorong Nalar Kritis Lewat “Reset Indonesia”

 

TUNTUNGAN, goresnews.com di tengah derasnya arus informasi dan dinamika isu sosial yang kerap membelah opini publik, secercah harapan disemai melalui literasi. Seorang dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Reviza Putra Syarif, S.Sos., M.I.Kom., memilih jalan sederhana namun bermakna, menghadirkan gagasan perubahan melalui buku.

Senin (04/05/2026), Reviza yang juga menjabat sebagai Direksi PT Indata Komunika Cemerlang, menyerahkan buku berjudul Reset Indonesia kepada Dekan Fakultas Ilmu Sosial UINSU, Prof. Dr. Mesiono, S.Ag., M.Pd., serta Wakil Dekan I, Dra. Retno Sayekti, MLIS, di ruang pimpinan fakultas.

Bagi Reviza, buku tersebut bukan sekadar bacaan biasa, melainkan “kacamata baru” untuk memahami Indonesia secara lebih jernih dan mendalam. Ia menilai, isi buku mampu mengupas berbagai persoalan bangsa sekaligus menawarkan solusi yang konkret dan relevan.

“Saya sudah menuntaskan buku ini. Isinya sangat mencerahkan dan memberi sudut pandang baru dalam melihat persoalan bangsa,” ujar Reviza, yang juga merupakan Wakil Sekretaris I Pengurus Wilayah Ikatan Wartawan Online Sumatera Utara (PW IWO Sumut).

Ia mencontohkan salah satu bahasan dalam buku mengenai ironi air bersih, di mana sungai yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru tidak lagi layak dikonsumsi akibat ulah manusia. Menurutnya, perspektif semacam ini penting dipahami mahasiswa agar memiliki kepekaan terhadap kondisi riil bangsa.

Penyerahan buku di lingkungan kampus yang beralamat di Jalan Lapangan Golf, Durin Jangak, Tuntungan, disambut antusias oleh pihak fakultas. Prof. Mesiono mengaku telah lama mendengar tentang buku Reset Indonesia, namun baru kali ini berkesempatan memilikinya.

“Saya sudah sering mendengar ulasan positif tentang buku ini. Insyaallah akan saya tuntaskan dan coba aplikasikan nilai-nilainya dalam proses pembelajaran,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Wakil Dekan I, Dra. Retno Sayekti, MLIS. Ia mengapresiasi isi buku yang dinilai sarat perspektif mendalam, hasil dari perjalanan panjang para penulis dalam merekam realitas Indonesia.

“Buku ini merekam apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan penulis selama berkeliling Indonesia. Perspektifnya sangat kuat dan membuka wawasan,” ujarnya.

Lebih dari sekadar seremoni, langkah Reviza ini membawa misi membangun budaya berpikir kritis di lingkungan akademik. Di tengah melimpahnya informasi yang kerap dangkal, ia mengajak sivitas akademika untuk kembali pada literasi yang substansial dan reflektif.

“Harapannya, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga peka terhadap kondisi bangsa dan mampu menjadi bagian dari solusi,” tutup Reviza.

Kini, gagasan dalam Reset Indonesia telah berpindah tangan. Dari lembar demi lembar, diharapkan lahir diskusi yang lebih luas, nalar kritis yang semakin tajam, serta kontribusi nyata dalam merumuskan arah masa depan bangsa yang lebih baik.

Reporter] TIM.