Keterangan gambar: Kondisi RSUD Kotapinang saat keadaan kurangnya penerangan dan menunggu PLN hidup yang saat kejadian depan gardu Asam Jawa membara (Kamis 25/12/2025).
KOTAPINANG, goresnews.com
pelayanan kesehatan kembali dipertanyakan. RSUD Kotapinang diduga melakukan kelalaian serius akibat pemadaman listrik, sementara genset rumah sakit yang seharusnya menjadi penopang utama penerangan sekaligus keselamatan pasien. Lampu hanya mampu menyala sekitar 15 menit sebelum mati total.
Saat PLN lakukan pemadaman darurat akibat gangguan di gardu induk Asam Jawa yang berdampak pada jalur Kotapinang, Blok Songo, dan Tanjung Medan. PLN memperkirakan perbaikan memakan waktu sekitar 90 menit.
Namun ironisnya, di tengah kondisi darurat itu, sistem cadangan listrik RSUD Kotapinang justru lumpuh.
Syahban Siregar kerab dipanggil Budi kapal laut, menjelaskan pada media Kamis (25/12/2025) ada keluarga saya dirawat di ruangan ICU, keluarga menghubungi saya sekira pukul 19.20 WIB “ hampir satu jam mati lampu dan sempat ditanyak ke security, security mengatakan genset rusak dan saya disuruh cepat datang,” ujarnya.
Dengan hujan mengguyur, Budi kapal laut bergegas menuju RSUD Kotapinang dan tiba sekitar pukul 19.41 WIB. Alih-alih menemukan kondisi darurat yang tertangani, ia justru menyaksikan ruang ICU masih gelap gulita.
Aktivitas penerangan rumah sakit hanya mengandalkan cahaya seadanya, bahkan lampu dari minimarket terdekat ikut menerangi depan area rumah sakit.
“Kami menunggu dalam kegelapan. Ini ICU, bukan gudang kosong,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Listrik baru kembali menyala sekitar pukul 21.15 WIB, artinya keluarga yang dirawat diruangan ICU harus bertahan hampir lebih kurang satu jam tanpa penerangan normal dan sistem kelistrikan yang layak.
Ketika dikonfirmasi melalui WhatsApp, Kepala UPT RSUD Kotapinang, dr. Hasana Lisa, membenarkan adanya pemadaman listrik dari pukul 18.37 WIB hingga sekitar 21.20 WIB.

Keterangan gambar: saat dicoba genset RSUD hanya mampu bertahan 15 menit mati dan dicoba lagi begitu juga hanya 15 menit mampu hidup.
Dalam penjelaskan bahwa genset RSUD sempat dioperasikan oleh teknisi, namun hanya bertahan sekitar 15 menit sebelum alarm berbunyi. Alih-alih memastikan genset tetap berjalan, teknisi RSUD justru mematikan mesin takut kalau dipaksa gensetnya meledak, antisipasi pihak RSUD menghubungi teknisi dari Medan melalui video call.
Upaya menyalakan kembali genset dilakukan, namun kembali gagal setelah alarm menyala untuk kedua kalinya.
“Teknisi RSUD tidak berani lagi mengoperasikan genset,” ujar Lisa.
Ia mengaku langsung meminta teknisi dari Medan tersebut turun ke Kotapinang untuk memperbaiki genset agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Atas kejadian tersebut, Direktur RSUD Kotapinang menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Labuhanbatu Selatan, khususnya warga Kecamatan Kotapinang, dan adanya kecerobohan.
Kasus ini menjadi alarm keras bagi saya sebagai Upt RSUD Kotapinang yang baru beberapa hari dilantik, insyah Allah kami akan memperbaiki kinerja kami yang masih belum baik kedepannya.
Reporter] Habib.












