LABUSEL, goresnews.com seleksi terbuka jabatan pimpinan tinggi pratama di Pemkab Labuhanbatu Selatan berujung drama! Delapan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang sudah menempuh seluruh tahapan seleksi dengan susah payah ternyata tak kunjung dilantik. Padahal, jabatan strategis yang mereka incar sudah lama kosong bahkan ada yang bertahun-tahun diisi oleh Pelaksana Tugas (Plt). Lalu, mengapa semua ini berakhir antiklimaks?
Ketika tim media mencoba mengorek informasi, muncul kejutan lain: Kepala Badan Kepegawaian dan Sumber Daya Manusia (BKSDM) Raja Zulfikarsyah diam-diam mengundurkan diri sejak 20 Maret 2025. “Pak Kaban sudah mengundurkan diri, mungkin Kaban fokus pada kesehatannya yang menurun,” ujar salah satu staf BKSDM Anehnya, saat coba dikonfirmasi lewat telepon maupun WhatsApp, Zulfikarsyah memilih bungkam. Rabu di kantor BKSDM 19 Maret 2025
Pelaksana Harian (Plh) Sekda, Reza Palevi Nasution, membenarkan kabar pengunduran diri Kaban BKSDM tersebut dan mengatakan bahwa untuk sementara, sekretaris BKSDM yang akan memegang kendali sampai Bupati Fery Sahputra Simatupang menunjuk Plt baru.
Namun, kabar yang beredar di kalangan ASN jauh lebih panas! Beberapa sumber yang enggan disebutkan namanya menyebutkan bahwa Zulfikarsyah mundur karena tak tahan dengan tekanan, terutama dari sejumlah ASN yang dikabarkan sudah “menyetor” agar bisa naik jabatan. Mereka yang merasa sudah memenuhi syarat dan bahkan dinyatakan lulus seleksi pun kini terkatung-katung tanpa kepastian dalam pelantikan.
Lebih mencurigakan lagi, delapan ASN ini sudah dinyatakan lolos berdasarkan hasil seleksi yang diumumkan dalam Surat Nomor: 800/45/Pansel-JPTP/2024, yang ditandatangani Ketua Pansel Drs. H. Fuadi pada 16 Desember 2024. Tapi sayangnya, pelantikan mereka tak pernah terjadi. Alasannya? “Bupati terpilih periode 2025-2029, Fery Simatupang, tidak mau menandatangani persetujuan pelantikan”
Selang beberapa hari ketika eks Bupati 2020-2025 H. Edimin, coba dikonfirmasi mengenai kisruh ini, ia juga memilih bungkam. Dihubungi via WhatsApp, tidak ada balasan, panggilan pun tak diangkat.
Lantas, bagaimana nasib delapan ASN yang sudah capek-capek mengikuti seleksi? Saat ditanya apakah mereka masih punya harapan dilantik, Bupati Fery Simatupang justru menjawab singkat melalui WhatsApp: “Sepertinya di ulang, bang.”
Jawaban ini makin menegaskan bahwa anggaran yang sudah dikeluarkan pemerintah untuk proses seleksi bisa jadi hanya terbuang percuma. Drama seleksi jabatan di Labusel ini pun meninggalkan banyak pertanyaan: Benarkah ada permainan di balik layar? Apakah ada pihak yang diuntungkan? Atau ini hanya masalah teknis semata?
Yang jelas, delapan ASN yang telah berjuang kini harus menerima kenyataan pahit, harapan mereka kandas di tengah jalan, dan roda birokrasi di Labusel masih berjalan di tempat.
Belum lagi para eselon tiga dan empat yang ingin naik jabatan yang sudah bayar bangku masa eks Bupati H Edimin banyak yang gigit jari, ilang sirna entah pada siapa mengadu merekapun tak tau.
Ketua IWO Labusel Candra Siregar “Aparat hukum yang terkait selidiki dong, ada apa gerangan dengan semua ini, sayang loh anggaran negara disia-siakan untuk hal yang tak berguna, padahal masih banyak lagi yang memerlukan anggaran tersebut”
Padahal Presiden lagi gencar-genjarnya memangkas anggaran untuk bisa eksis dalam program makan bergizi gratis dan lain-lain, ini aja, jelas ketua IWO Labusel.
Reporter] Habib.












